Rabu, 11 Desember 2019

ARTIKEL UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENDONGENG PADA SISWA SD DENGAN MEDIA WAYANG UNTUK MENUMBUHKAN NILAI KARAKTER SISWA


UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENDONGENG PADA SISWA SEKOLAH DASAR DENGAN MEDIA WAYANG UNTUK MENUMBUHKAN NILAI KARAKTER PADA SISWA

Abstrac: Storytelling is an effort to instill noble values in children. Through storytelling, the values of virtue (morality, character, honesty, kindness, independence, or religion, etc.) can be instilled in children easily and pleasantly. Through fairy tales children learn to develop their imagination, increase their ability to communicate, practice listening skills pleasantly, accumulate brain work for cognitive development, express themselves, foster a sense of humor, expand social and emotional horizons, and pick messages or implied conclusions / conclusions behind fairy tales. Storytelling also describes the surroundings or the environment at large, but the description is pleasant. And also improve language skills because a lot of vocabulary that he took from a fairy tale, and moreover when he was interested in reading fables, automatically reading skills or interests had increased. 
Keywords: Storytelling, Puppets, Character values, cognitive skills
Abstrak: Mendongeng merupakan salah satu upaya menanamkan nilai-nilai luhur pada anak. Lewat mendongeng, nilai-nilai keutamaan (moral, budi pekerti, kejujuran, kebaikan, kemandirian, atau keagamaan dan lain-lain) bisa ditanamkan kepada anak-anak dengan mudah dan menyenangkan. Melalui dongeng pula anak-anak belajar mengembangkan daya imajinasi, menambah kemapuannya berkomunikasi, melatih kemampuan mendengar secara menyenangkan, menstumulasi kerja otak untuk perkembangan kognitifnya, mengekspresikan diri, menumbuhkan rasa humor, memperluas cakrawala sosial dan emosional, dan memetik pesan atau amanat/kesimpulan yang tersirat di balik dongeng. Mendongeng juga menggambarkan keadaan disekitar ataupun lingkungannya secara luas, namun penggambarannya secara menyenangkan. Dan juga meningkatkan keterampilan berbahasa karena banyak kosa kata yang ia ambil dari sebuah dongeng, dan terlebih lagi saat ia sudah tertarik dengan bacaan dongeng, otomatis keterampilan atau minat baca ia sudah meningkat.
Kata kunci: Mendongeng, Wayang, Nilai berkarakter
, kognitif, keterampilan

            Indonesia adalah negara yang kaya akan dongeng, khususnya dongeng yang ditujukan untuk anak-anak. Masing-masing wilayah di Indonesia memiliki koleksi dongeng yang mengandung nilai kearifan lokal di dalamnya. Tengok saja dongeng Timun Mas dari Jawa Tengah, Si Kabayan dari Jawa Barat atau juga Pengeran Si Katak-katak dari Sumatra Utara. Sampai saat ini, dongeng masih memiliki tempat di hati anak-anak Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kemasan dongeng yang merupakan perpaduan antara unsur hiburan dengan pendidikan.
            Unsur pendidikan ditujukan melalui pesan yang dimuat, baik melalui cerita yang terakhir dengan kebahagiaan maupun kesedihan. Inti dari sebuah dongeng dapat dijadikan bahan perenungan bagi audiensinya. Unsur hiburan merupakan “bumbu penyedap” supaya penyampaian dongeng tidak menimbulkan kebosanan, bisaanya dengan dialog interaktif antara pendongeng dengan audience atau dengan humor. Karena jika terjadi kebosanan terhadap anak, maka anak akan tidak minat untuk mempelajari apa itu dongeng. Jangankan mempelajari, mendengarkannya saja sudah malas. Sehingga nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya tidak bisa disampaikan.       
            Meningkatkan bahkan menumbuhkan nilai-nilai karakter pada anak, sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh bangsa ini. Bangsa ini sudah cukup parah, jika generasi penerusnya kelak tidak mempunyai nilai-nilai yang berkarakter. Tentunya menumbuhkan nilai-nilai berkarakter pada anak tidaklah mudah. Banyak faktor yang menghambat bahkan mematikan nilai-nilai berkarakter tersebut. Butuh pengajaran yang kontinue dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal anak berada, hingga sekolah.
            Sekolah merupakan tempat penumbuhkembangan karakter dan budaya yang baik (Kastam Syamsi  2008). Salah satu penumbuhan nilai berkarakter di sekolah dapat diajarkan melalui sastra. Ketika pembelajar membaca sebuah karya sastra, mereka akan menemukan nilai budaya yang terkandung di dalamnya, dongeng salah satunya. Menurut pengamatan peneliti dongeng sangat baik digunakan dalam pembelajaran, karena siswa akan lebih tertarik dengan adanya dongeng dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pandapat Abdul Aziz Abdul Majid (2002: 30) yang mengatakan bahwa dongeng dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada anak. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan walaupun banyak juga melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) bahkan sindiran.
            Akan tetapi dalam penerapannya, ketika anak diintruksikan untuk mendongeng, banyak kendala yang dihadapi. Kurangnya pengetahuan anak mengenai cerita yang akan diceritakan, hingga tidak ada media yang mendukung untuk mengkonkritkan apa yang masih abstrak dipikiran anak menjadi faktor-faktor penyebab. Dengan begitu akan mengakibatkan efek kejenuhan siswa dalam mengikuti mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya sastra karena kebanyakan guru menggunakan atau mengajarkannya hanya dengan metode ceramah. Sehingga kemampuan anak dalam berbicara, rendah (Eka Ratnawati 2010). Seperti yang terjadi di desa Sunan Ampel, Blotongan, Salatiga. Anak-anak di sana, ketika ditanyakan mengenai cerita rakyat setempat, tentang Baruklingting misalnya. Hampir seluruhnya tidak mengetahui cerita tersebut. Begitu memprihatinkan memang, cerita yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka sendiri saja tidak mengetahuinya, bagaimana dengan cerita-cerita lain yang ada diberbagai daerah yang tentunya memiliki nilai-nilai moral tinggi di dalamnya.
            Salah satu upaya dalam mengatasi dan berupaya untuk meningkatkan kemampuan mendongeng, yaitu menggunakan media wayang kardus. Sering kali kita menganggap wayang merupakan sesuatu yang membosankan dan kuno, akan tetapi wayang yang sarat filosofi ini dapat dikembangkan menjadi media kampanye dan pendidikan lingkungan yang menarik. Wayang yang tadinya dibuat dari kulit sapi  atau wayang dari bahan daur ulang dikembangkan, sehingga mudah diaplikasikan oleh semua orang termasuk oleh guru bahasa Indonesia.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka dapat ditemukan permasalahan-permasalahan (1) bagaimana strategi untuk meningkatkan keterampilan mendongeng anak, (2) seperti apa strategi dalam mendongeng untuk dapat menumbuhkembangkan pendidikan karakterdan (3) seperti apa keefektifan media wayang daur ulang. Berdasar rumusan masalah tersebut, diharapkan penerapan media wayang daur ulang sebagai media kreatif, mampu membantu guru dan siswa khususnya dalam keterampilan mendongeng. Serta sebagai sarana pemanfaatan barang bekas berupa menjadi sebuah karya kreatif.
            Manfaat yang diperoleh dalam tulisan ini dapat dilihat dari dua segi. Yakni segi teoretis dan praktis. Dari segi teoretis program ini bermanfaat untuk: (a) meningkatkan keterampilan mendongeng siswa; (b) menumbuhkan pemahaman siswa akan cerita-cerita rakyat yang berkembang di Indonesia. Sedangkan dari segi praktis, tulisan ini bermanfaat untuk: (a) Menumbuhkan kreativitas khususnya guru dalam menyediakan sebuah media pembelajaran yang kreatif; (b) pemanfaatan barang bekas menjadi sebuah media pembelajaran; (c) menumbuhkan nilai-nilai berkarakter siswa.

DONGENG DAN MENDONGENG
            Dongeng dan budaya mendongeng telah berkembang di Indonesia sejak zaman dulu. Perkembangan dongeng pada awalnya hanya terbatas di lingkungan kerajaan dan dilakukan oleh orang yang benar-benar mahir mengdongeng. Perkembangan selanjutnya, dongeng disampaikan oleh para orang tua kepada orang yang lebih muda atau anak-anaknya. Lingkupnya pun tak hanya di lingkungan kerajaan,tetapi sudah lebih luas lagi seperti di lingkungan masyarakat pada umumnya. Cerita yang disampaikan biasanya berupa cerita rakyat yang berkembang pada saat itu, seperti mite, legenda, atau dongeng. Menurut James Danandjaja dalam bukunya Foklor Indonesia- Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain, dongeng termasuk cerita rakyat lisan yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita. Dongeng juga tidak terikat oleh tempat maupun waktu, karena dongeng diceritakan terutama untuk menghibur. Meskipun demikian, banyak pula dongeng yang berisi ajaran moral, melukiskan kebenaran, bakhan ada pula yang mengandung sindiran.
             Sedangkan dalam KBBI (2002: 274) yang dimaksudkan dengan dongeng adalah 1) cerita terutama kejadian zaman dahulu yang aneh-aneh atau cerita yang tak terjadi benar, 2) perkataan (berita dan sebagainya) yang bukan-bukan terjadi, baik oleh penuturnya maupun oleh pendengarnya. Dongeng tidak terikat oleh ketentuan tentang pelaku, tempat, dan waktu terjadinya boleh kapan saja dan tempat terjadinya dapat di mana saja (Depdikbud 1980: 61).
            Merujuk pada pengertian di atas, bisa dikatakan bahwa cerita-cerita di dalam dongeng semata-mata hanyalah khayalan. Akan tetapi, sekalipun kita bercerita tentang hal-hal yang bersifat khayal, kita tidak boleh berdusta. Yang ingin kita sampaikan bukan tentang khayal atau bohongnya, tetapi nilai-nilai luhur di balik cerita dalam dongeng (khayal) tersebut.
            Kita juga tidak pernah tahu siapa yang mengarang atau mencipta dongeng tersebut. Bahkan dongeng sering dianggap tidak ada pengarang atau pencipta alias ‘no name’. Mengingat cerita-cerita dalam dongeng itu semata-mata adalah ‘khayalan’ atau ‘bohongan’ atau ‘bualan’, maka sudah selayaknya kita berhati-hati dan perlu ada keberanian untuk mengungkap hal-hal kebenaran, sekalipun itu melalui sebuah cerita khayalan atau bohongan. Yang justru harus kita pupuk adalah rasa simpati dan harapan positif terhadap dongeng sehingga kita akan mendapat banyak manfaat dari mendongeng.

MENDONGENG DI SEKOLAH
            Bila kita mendengarkara ‘dongeng’ atau tahu ada kegiatan mendongeng, maka yang pertama kali terpikirkan adalah sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak. Namun, pada kenyataannya, setiap kali digelar pertunjukan/ acara mendongeng, tidak hanya anak-anak saja yang tertarik. Setiap orang tua yang ada di sekitar tempat pertunjukan mendongeng itu pun ikut hanyut dan tertarik. Bahkan tidak heran bila semua yang hadir ikut tenggelam dalam suasana dongeng yang dibawakan oleh si pendongeng.
            Hal itu membuktikan bahwa tak hanya anak-anak yang tertarik akan dongeng. Para orang tua pun senang mendengarkan dongeng. Semakin hari semakin banyak orang yang mau belajar mendongeng. Kegiatan mendongeng di sekolah ini biasanya dilaksanakan di aula ataupaun ruang kelas. Dengan demikian, si pendongeng bisa mendongeng sekaligus menyampaikan misi/ pesan dari sekolah agar anak-anak semakin gemar membaca dan semakin mengoptimalkan penggunaan buku-buku di perpustakaan, misalnya. Dengan membaca, si anak akan memahami logika berbahasa dengan lebih mudah.
            Dan lebih dari itu semua, dongeng juga diyakini dapat mengembangkan kemampuan berimajinasi. Selain itu, dongeng juga sangat efektif untuk memotivasi daya kreasi anak. Satu hal lagi, dongeng juga merupakan sarana pembelajaran nilai-nilai moral bagi anak. Karena itulah, kalau memang si anak lebih cepat menangkap pelajaran lewat dongeng, tak ada salahnya apabila para guru menyampaikan materi dengan (diselingi) mendongeng. Cara ini tentu akan lebih menarik dan si anak pun merasa lebih enjoy untuk belajar. Para guru pun bisa lebih rileks karena tak harus selalu menyampaikan materi pelajaran dengan cara-cara formal dan kaku yang membuat si anak merasa cepat bosan.

DAYA PIKAT DONGENG
            Dongeng tak hanya penting dan bermanfaat bagi kita. Kita tak dapat menyangkal bahwa dongeng juga memiliki daya pikat dan pengaruh yang luar biasa besar. Apabila dilengkapi dengan kemampuan si pendongeng yang membawakan dongengnya dengan piawai dan hebat, dongeng bisa menjadi alternatif hiburan yang penuh pesona. Sudah barang tentu kemampuan si pendongeng ini akan menjadi hal yang paling istimewa. Anak-anak pun akan merasa terkesan setelah mendengarkan dongeng.
            Untuk menciptakan daya pikat dalam mendongeng, seorang pendongeng harus mampu mengail perhatian audiensnya dengan mengandalkan suara-suaranya yang beraneka ragam. Bisa juga dengan mengemas gaya punggung (gaya teater) dan gaya bisu (pantonim) secara lebih ekspresif. Atau dilengkapi dengan kemampuan lain yang dimiliki. Dengan demikian, mendengarkan dongeng tak hanya menangkap suara si pendongeng, tetapi juga menikmati gaya, gerak, ekspresi, serta kemampuan lain seperti menari, menyanyi, bahkan berain alat musik.
            Banyak pula pendongeng yang mengembangkan daya pikat dongeng dengan penampilan penuh karisma dilengkapi peralatan-peralatan yang bagus dan sempurna, misalnya dengan boneka. Sebagai contoh, Gatot Soenjoto dan boneka Tongki-nya, Ria Enes dan boneka Susan-nya. Mereka sangat mahir memainkan dan menyuarakan boneka-bonekanya. Tampil mendongeng dengan hebat dan memikat merupakan hal yang sangat menggembirakan.
            Saat ini anak-anak telah mengenal CD/ DVD dan segala perangkat audio visual interaktif yang telah diprogram dengan berbagai macam permainan dan cerita yang bisa dipilih sesuka hati. Begitupun dengan acara-acara di televisi yang disuguhkan di berbagai channel.Sepertinya pilihan untuk sekadar memuaskan keinginan si anak untuk bermain amat beragam.
            Namun demikian, tradisi lisan dalam dongeng akan tetap memiliki dan menimbulkan kekuatan imajinatif, karena anak-anak berhadapan langsung dengan si pendongeng. Dengan cara ini, anak-anak dapat mendengar secara langsung tiap-tiap kata yang diucapkan, serta memandang langsung ekspresi-ekspresi serta gaya si pendongeng yang akan menghanyutkan perasaan serta imajinasi mereka dalam alur dongeng yang didengarnya secara lisan.
            Hal inilah yang tidak bisa didapatkan anak-anak bila sedang menonton televisi. Mereka hanya mendengar sekilas, menatap sesaat, atau bahkan mungkin hanya melihat bentuk dan warna saja tanpa bisa memahami isi cerita karena ucapan si tokoh yang terlalu cepat sehingga maksudnya pun tidak jelas. Bahkan, sering sebuah acara atau cerita terpenggal hanya gara-gara ‘si iklan’ lewat.
            Berkaitan dengna hal tersebut, Margaret Read MacDonald (pendongeng asal Seatle dan penulis buku anak-anak) mengatakan, “Ketika Anda mendongeng kepada anak-anak, Anda akan merasakan hanya ada anak-anak di mata Anda dan Anda di mata mereka.” Artinya, dongeng memang memiliki kekuatan untuk menjalin keintiman antara pendongeng dengan pendengarnya. Dan dengan keintiman seperti itu, tak heran jika pesan akan lebih mudah disampaikan.

WAYANG DAUR ULANG SEBAGAI MEDIA MENDONGENG
            Selama ini, indera utama yang difungsikan ketika kita bercerita dengan mulut adalah pendengaran. Untuk mencapai hasil yang lebih tinggi dalam belajar mengajar, hendaknya kita juga merangsang indera-indera yang lainnya yang ada pada pendengar kita. Karena itu, alat bantu dalam bercerita sangat diperlukan. Alat bantu ini biasanya disebut alat peraga.
            Alat peraga dapat membantu kita untuk merangsang indera-indera lain yang ada pada pendengar kita, misalnya pelihat, peraba, bahkan pencium atau pembau dan pengecap. Perlu kita upayakan agar alat peraga yang kita gunakan dapat menjadi sarana yang mendorong pendengar untuk berpartisipasi secara aktif dalam bercerita dan bukan hanya sekadar duduk diam dan mendengarkan cerita dengan pasif. Dengan berpartisipasi secara aktif, pendengar merasa dirinya terlibat di dalam cerita sehingga mereka seolah-olah melihat sendiri peristiwa yang terjadi dalam cerita yang disampaikan. Jika pendengar kita adalah anak-anak, maka alat peraga hendaknya dapat membantu mereka untuk mengembangkan daya imajinasinya yang tinggi.
            Alat peraga dapat berupa apa saja dan dibuat dari bahan apa saja. Namun, ingatlah bahwa pemilihan jenis bentuk dan bahan hendaknya disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, anak batita memerlukan alat peraga yang berukuran besar, berwarna menarik, dan terbuat dari bahan-bahan yang aman (tidak tajam, berbau atau beracun); sedangkan alat peraga untuk anak tanggung, dapat dirancang sedikit lebih rumit atau dengan detil yang lebih khusus. Wayang daur ulang misalnya. Wayang merupakan warisan budaya leluhur yang patut dilestarikan. Wayang juga sarat dengan pendidikan karakter dari tiap cerita yang dibawakan oleh dalangnya. Kehadiran wayang daur ulan sebagai media mendongeng untuk anak sekolah dasa sangatlah tepat, karena selain memperkenalkan kepada anak tentang dunia pewayangan, guru memanfaatkan barang-barang bekas yang kurang terpakai untuk dijadikan sebuah media pembelajaran yang mempunyai nilai seni tinggi. Tentunya guru juga bisa memodifikasi wayang dengan cerita yang akan dibawakan, sesuai dengan target sasaran siswa dan wilayah tempat tinggal siswa. Sehingga siswa mampu memvisualkan dan mengkonkritkan sebuah cerita dongeng yang dibawakan oleh guru. Juga sebagai langkah memopulerkan kembali wayang dan budaya ‘mendalang’ bagi generasi penerus bangsa.

DAMPAK POSITIF MENDONGENG BAGI PERKEMBANGAN ANAK        
            Mendongeng dan didongengi merupakan kegiatan yang sama-sama menyenangkan. Kegiatan mendongeng sebenarnya sudah secara langsung memberi kontribusi positif bagi anak. Mendongeng merupakan hiburan yang penuh arti, juga sebagai ajang komunikasi yang efektif dan akrab dengan anak-anak. Tak hanya itu, mendongeng juga memberi manfaat dan dampak positif bagi orang tua, guru atau siapa pun yang menjadi pendongengnya. Karena itulah, agar mendongeng memberikan dampak yang positif dan mampu menyampaikan pesan moral dengan baik, maka setiap orang tua, guru atau siapa pun yang mendongeng butuh trik-trik dalam menyampaikan dongeng.
            Hadirnya tokoh-tokoh di dalam cerita yang disajikan mampu membangkitkan daya imajinasi anak. Selanjutnya dengan daya imajinasinya si anak akan memproses cerita dan kemungkinan mengidentifikasi si tokoh dalam diri si anak. Misalnya, si Timi tikus yang cerdik, si Kancil yang cerdik, si buaya yang jahat, Puteri Sriwedari Loro yang rendah hati, dan lain-lain. Semua itu diharapkan dapat merangsang pembentukan pribadi yang positif khususnya bagi si anak. Sedangkan dampak negatif dari sebuah dongeng penulis rasa tidak ada. Kalaupun ada, rasanya sangat kecil kemungkinannya. Berikut ini beberapa dampak posotif mendongeng bagi perkembangan anak.

Mengembangkan Daya Imajinasi, Kreativitas, Dan Kemampuan Berpikir Abstrak Bagi Anak
            Pada dasarnya anak memang biasa membayangkan dan “menghidupkan” suatu kejadian dalam fantasinya. Apa yang dibayangkannya seolah-olah menjadi kenyataan. Misalnya, ketika anak membayangkan sedang berada di bulan, maka ia akan merasakan seperti sedang melayang-layang. Kemudian ia akan berjalan berjinjit-jinjit, membungkuk, lalu tegak lagi, seperti sedang melayang.
            Artinya, pada batas-batas tertentu kemampuan imajinasi dan abstraksi yang baik dapat berkembang pada keajaman dalam menganalisis suatu peristiwa secara komprehensif sehingga dapat mendorong serta melahirkan perkembangan kreativitasnya.
            Dengan demikian, dongeng mampu mengembangkan daya imajinasi anak dengan membayangkan seolah-olah ia bisa terbang. Kemudian daya kreativitasnya muncul seiring dengan mengaitkan sarung atau taplak meja di lehernya. Selanjutnya, si anak akan merasa bahwa ia adalah seorang Superman yang siap beraksi, sama seperti yang ia lihat di televisi.

Menjalin Interaksi Yang Akrab Antara Anak Dan Orang Tua.
            Melalui media mendongeng, sudah semestinya setiap orang tuaatau guru akan dapat menjajaki pemahaman anak tentang sesuatu hal. Saat mendongeng, sebelum berhadapan dengan anak, kita tidak tahu kondisi dan pikiran mereka. Namun, begitu memasuki suasana mendongeng, setidaknya kita akan tahu keadaan si anak, baik dari sikap, sifat, bahkan sampai ke tabiatnya. Kita bisa melihat langsung dari ekspresinya, ungkapan-ungkapannya, dan luapan-luapan emosinya. Biasanya kalau kita sedang mendongeng, dari sejumlah anak yang kita hadapi, akan muncul juga anak-anak yang berpenampilan beda. Misalnya, anak yang mempunyai sifat pemalu, pendiam, tempramental, pemberani, atau bahkan yang hanya biasa-biasa saja.
            Atau sebaliknya, dari anak yang tadinya tidak punya rasa percaya diri, maka pada saat itu akan berubah menjadi anak yang bisa memiliki kepercayaan diri, walau tidak langsung 100%. Hal ini disebabkan oleh emosi yang muncul saat mendengarkan dongeng, juga keadaan si anak itu sendiri. Pada umumnya, hal-hal yang terjadi merupakan hal-hal yang timbul secara spontan dan bukan hal-hal yang dipersiapkan atau direkayasa.
            Dengan adanya kegiatan mendongeng, maka tidak menutup kemungkinan anak akan menjadi bisa dan terbiasa serta berani mengungkapkan pendapatnya. Sementara itu, orang tua akan lebih dapat memahami apa-apa saja yang dipikirkan atau yang diingingkan si anak. Artinya, melalui aktivitas mendongeng, secara sadar maupun tidak sadar, kita dapat meningkatkan interaksi dengan anak dan menjadikan suasana menjadi lebih akrab.

Melatih Kecerdasan Emosi dan Kepekaan Sosial.
            Mendongeng juga merupakan salah satu cara untuk mengajak anak-anak belajar berempati pada kesusahan atau penderitaan orang lain. Anak juga dilatih agar mampu bersikap optimis dalam menghadapi masalah. Oleh karena itu, pendongeng atau penutur cerita diharapkan tidak hanya sekadar jadi penghibur semata dalam menyajikan dongeng-dongengnya, tetapi juga harus bisa membawa misi dalam menerapkan pendidikan.
            Pendongeng juga diharapkan pintar membaca hati pendengarnya. Secara halus dan tanpa sadar, sesungguhnya anak sedang diajarkan dan dibiasakan berlatih agar mengerti dan berusaha tenang dalam menghadapi dan menerima berbagai situasi. Hal ini juga akan mengasah kepekaan anak terhadap kepentingan sosial yang ada.
Meningkatkan Serta Menunjang Perkembangan Moral
            Pada dasarnya, untuk mengajarkan dan memberikan pemahaman tentang moral pada anak memang bukan hal yang mudah, walaupun bukan hal yang tabu. Hanya saja, masalah ini masih merupakan hal yang sulit bagi anak-anak untuk memahami kata-kata yang abstrak, misalnya mengenai kejujuran, kesetiakawanan, sopan santun, empati, dan segala yang menyangkut soal moral.
            Oleh karena itu, mendongeng adalah salah satu cara mengajarkan hal tersebut. Saat mendongeng, kita bisa memiih tema tentang kebaikan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tentang menolong sesama yang kesusahan atau terkena musibah. Dengan cara itu kita diharapkan bisa menjelaskan dan mengajak si anak untuk lebih peduli dengan sesama secara lebih mudah. Dengan menampilkan tokoh-tokoh yang disukai anak, maka anak pun akan lebih memerhatikan dongeng yang kita sampaikan. Terangkan juga mengapa kita harus saling menolong dan saling menghormati. Sebisa mungkin terangkan hal-hal yang sifatnya abstrak (terutama tentang keutamaan moral) dengan cara yang lebih mudah agar anak pun bisa mencerna dengan mudah pula.

Menanamkan Motivasi dan Proses Identifikasi Yang Positif
            Melalui aktivitas seperti mendongeng atau membacakan buku-buku dongeng kepada anak-anak, kita berharap adanya satu perubahan. Anak-anak dapat meniru keteladanan dari cerita-cerita yang kita sampaikan. Dengan sifat teladan si tokoh diharapkan anak akan lebihmudah meniru dan memotivasi dirinya. Demi mewujudkan semua ini, orang tua juga dituntut untuk selektif dan mengerti akan kepentingan pada pendidikan anaknya. Oleh karena itu, penokohan dalam sebuah cerita sangatlah diperlukan untuk menanamkan motivasi berprestasi dalam berbuat baik.
            Pada cerita-cerita yang tokohnya begitu berkesan atau diidolakan si anak, pastinya akan menjadikan sebuah proses identifikasi yang positif. Misalnya, si anak menokohkan Bima, Gatotkaca, Pangeran Diponegoro atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran dari Gua Selarong, Ksatria Garuda Perkasa. Dengan mengidolakan tokoh kesayanganya, secara tidak langsung si anak pun akan meniru segala yang ada pada si tokoh, misalnya kostumnya, cara bicaranya, tingkah lakunya, dan sebagainya.
 Namun untuk menyerap pelajaran dengan baik, bercerita saja tidaklah cukup.  Penelitian membuktikan bahwa kemampuan seseorang untuk menyerap (menangkap dan mendengar) pelajaran berbeda-beda, sesuai dengan alat bantu yang digunakan ketika pelajaran berlangsung. Berikut adalah skala kemampuan seseorang dalam menyerap pelajaran.

            Jadi, dongeng merupakan sarana yang efektif untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Dalam keadaan apa pun dongeng mampu menjadi ‘jembatan’ yang fleksibel untuk menghubungkan harapan orang tua dengan kemauan/ keinginan anak. Dengan daya pikat yang luar biasa, dongeng mampu ‘menggiring’ anak agar bisa seperti yang kita harapkan. Apalagi jika kegiatan mendo
Cerita di atas juga menjadi gambaran bahwa dongeng mampu mengalihkan perhatian anak dan menumbuhkan rasa ingin tahu anak. Asalkan kita mau dan mampu memilih dongeng yang sesuai untuk anak, niscaya anak akan selalu berharap untuk bisa selalu bersama kita dan menuruti apa yang kita inginkan. Bahkan, mereka akan menunggu-nunggu kehadiran kita di sisi mereka.

DAFTAR PUSTAKA           
Asfandiyar, Andi Yudha. 2007. Cara Pintar Mendongeng. Bandung: Dar! Mizan.
Bunanta, Murti. 2008. Buku Mendongeng dan Minat Membaca.Jakarta: Kelompok
             Pecinta bacaan Anak.
Priyono, Kusuma. 2006. Terampil Mendongeng. Jakarta: Grasindo.
Simanjuntak, A.L. 2008. Seni Bercerita: Cara Bercerita Efektif. Jakarta: PT. BPK
             Gunung Mulia.

Kamis, 10 Oktober 2019

POWER POINT INTERAKTIF (MATERI SIMBIOSIS SEKOLAH DASAR)

MATERI SIMBIOSIS SEKOLAH DASAR

Assalamualaikum......
Sebelumnya perkenalkan saya Sri Maha Dewi offering H8 PGSD. Power point interaktif ini berisi materi tentang simbiosis yang ditunjukkan untuk peserta didik kelas 4 Sekolah Dasar. Pada ppt ini berisi mengenai pengertian, jenis-jenis dan contoh simbiosis. Pada isi materi ini memiliki tujuan pembelajaran, yaitu
  1. Mengetahui jenis-jenis hubungan khas antar makhluk hidup (simbiosis)
  2. Mengetahui keuntungan dan kerugian dari hubungan khas antar makhluk hidup (simbiosis)
  3. Mengetahui contoh hubungan khas antar makhluk hidup (simbiosis)
Pada power point interaktif ini tidak hanya berisi materi saja, tetapi juga terdapat soal latihan yang berjumlah 20 butir soal.

Untuk mendownload Power Point ini silahkan klik disini

Berikut gambaran isi  dari Power Point Interaktif





Rabu, 13 Februari 2019

PUISI "Amarah Sang Bantala"

AMARAH SANG BANTALA
Karya: Sri Maha Dewi 
Di terbitkan "Majalah Sekolah SMAN 1 KESAMBEN" thn 2016


Bumi...

Amarahmu sungguh menyesatkan kami

Guncanganmu rontokkan imajinasi diri

Marahmu munculkan kobaran api


Percayalah...

Hukum alam akan mengadili


Bumi...

Kau lepas kendali 

Kau lumat seluruh isi

Goyang, mengguncang tanpa arti


Murkamu Tuhan...

Berikan ingatan yang kuat tanpa henti

Rusaknya seluruh isi

Retaknya tanah lahan kami

Terguyurnya wilayah kami dengan cairan injeksi

Kedipan pijar bak lampu hiasi bumi


Kau...bumi...

Ku mohon, jangan resahkan diri ini

Tegarkan, niatku untuk lakukan ini


~SEKIAN~

trowback* puisi ini dapat tercipta saat tugas bahasa indonesia kelas XI SMA untuk menccari bacaan (teks eksplanasi) tentang bencana alam. dan saya memilih tentang gempa bumi. banyak tahapan yang dilakukan, dari pertama mencoret kata, menggantikata agar puitis, dan beberapa tahap penyempurnaan hingga tercipta puisi nan indah..

Terimakasih kepada teman-teman angkatan 22 SMAN 1 Kesamben Blitar khususnya siswa IPS yg telah membantu menyempurnakan kata-kata dalam puisi (saat tugas itu berlangsung). Terimakasih yang tak terhingga...

__ silahkan mengcopy jika diperlukan, tetapi janganlupa untuk mengikutsertakan karya seseorang__
SEMOGA BERMANFAAT......

Jumat, 01 Februari 2019

Makalah PAI PGSD ( Dengan Metode Mengimani Sifat-Sifat Allah Untuk Membentuk Karakter Siswa Usia Sekolah Dasar )

MAKALAH 
Pendidikan Agama Islam Dengan Metode Mengimani Sifat-Sifat Allah Untuk Membentuk Karakter Siswa Usia Sekolah Dasar

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat_Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Pendidikan Agama Islam Dengan Metode Mengimani Sifat-Sifat Allah Untuk Membentuk Karakter Siswa Usia Sekolah Dasar. Makalah ini dibuat guna menyelesaikan tugas akhir mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
Terima kasih juga saya ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi. Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik dan baik lagi.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Blitar, 27 November 2018




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………..ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………..1
1.1  Latar Belakang ………………………………………………………..1
1.2  Rumusan Masalah……………………………………………………..1
1.3  Tujuan…………………………………………………………………2
1.4  Manfaat …………………………………………………………….…2
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………..…….…3
2.1  Pengertian Iman dan Sifat…………………………………………......3
2.2  Sifat-Sifat Allah Menurut Pengelompokkannya……………………....4
2.3  Cara Membentuk Karakter Siswa Dengan Metode Mengimani Sifat Sifat Allah……………………………………………………………….....12
BAB III PENUTUP…………………………………………………………..14
3.1  Kesimpulan………………………………………………………...…14
3.2  Saran………………………………………………………………….14
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...15



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sifat-sifat  yang menunjukkan dan sekaligus memberitahukan, menggambarkan dan membuktikan kesempurnaan-Nya Allah. Allah SWT melakukan pilihan-pilihan sesuai kehendak-Nya untuk memberikan pahala atau memberikan siksa, mencipta atau tidak mencipta, memberi petunjuk atau tidak memberikannya dan sebagainya. Allah melakukan perbuatan-perbuatanyang layak bagi-Nya dan sesuai dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. Begitulah Tuhan memberitahukan tentang diri-Nya kepada makhluk-Nya. Apapun yang terdapat pada diri Allah dan keluar dari-Nya adalah kehendak, kekuasaan, kesempurnaan dan milik Allah yang Maha suci. Itulah sifat Allah yang Maha sempurna dan meliputi segala sesuatu.
Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa Allah sama sekali berbeda dari dan tidak dapat disamakan dengan makhluk-Nya. Dia Allah Maha suci dan bersih dari segala penyerupaan dan pembentukan. Sifat Allah bukanlah Dzat-Nya tetapi ia (sifat) tidak dapat dipisahkan dari-Nya.jika dikatakan bahwa Allah Maha melihat, berarti Allah melihat dengan penglihatan-Nya, bukan dengan Dzat-Nya.
Melalui pemahaman sifat-sifat Allah sebagai kesempurnaan bagi-Nya dapat membantu meningkatkan keimanan kita kepada Allah. Sesungguhnya keimanan manusia itu yazid wa yankus (naik turun). Oleh karena itu agar keimanan manusia bisa yazid dan tidak yankus maka manusia harus memahami sifat-sifat Allah, keajaiban-keajaiban alam dan seluruh isi alam jagad raya ini milik Allah SWT.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimana pengertian dari Iman dan Sifat Allah?
1.2.2        Bagaimana sifat-sifat Allah menurut pengelompokkannya?
1.2.3        Bagaimana cara membentuk karakter siswa dengan metode mengimani sifat sifat Allah?

1.3  Tujuan
1.3.1         Untuk mengetahui pengertian dari Iman dan Sifat Allah
1.3.2         Untuk mengetahui sifat-sifat dan pengelompokkannya
1.3.3         Untuk mengertahui cara membentuk karakter siswa melalui metode mengimani sifat-sifat Allah

1.4  Manfaat
1.4.1         Agar lebih memahami dari Iman dan Sifat Allah
1.4.2         Agar lebih memahami sifat-sifat Allah berdasarkan pengelompokkannya
1.3.4         Agar lebih memahami cara membentuk karakter siswa dengan metode mengimani sifat-sifat Allah



BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Iman dan Sifat
Iman dari segi bahasa berarti percaya. Berasal dari bahasa arab
يُؤْمِنُ - ِايْمَانًا اَمَنَ –
Menurut istilah:
الْإِيْمِانُ هُوَ تَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ
Artinya: “ iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan memperbuat dengan anggota badan (beramal).”
Iman itu terdiri atas tiga tingkatan:
a.    Tingkatan mengenal. Pada tingkatan pertama ini seseorang baru mengenal sesuatu yang diimani.
b.    Tingkatan kesadaran. Pada tingkat kedua ini iman seseorang sudah lebih tinggi, karena sesuatu yang diimani didasari oleh alasan-alasan tertentu.
c.    Tingkatan haqqul yaqin. Tingkat ini adalah tingkatan iman yang tertinggi. Seseorang mengimani sesuatu tidak hanya mengetahui dengan alasan-alasan tertentu, tetapi dibarengi dengan ketaatan dan berserah diri kepada Allah.
Adapun “Sifat” (sifah) adalah nama yang menunjukkan pada sebagian keadaan dari dzat , dan sifat tersebut merupakan sesuatu yang terjadi dengan mengambil sesuatu dari dzat tersebut, seperti ilmu kekuasaan dan sebagainya.” Ibnu Faris mengatakan: sifat adalah al-amarah (tanda-tanda) yang lazim untuk sesuatu. Ia juga mengatakan: “sifat (na’t) adalah penyebutan (penjelasan) mengenai sesuatu dengan kebaikan yang ada di dalamnya.”
Sifat-sifat Allah adlah sifat sempurna yang tidak terhingga bagi Allah. Kita sebagai musli hukumnya wajib untuk mempercayai bahwa terdapat sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah. Oleh karena itu marilah kita mengetahui 20 sifat wajib bagi Allah, juga 20 sifat mustahil bagi Allah, dan 20 sifat jaiz-Nya.
Sifat-sifat Allah seluruhnya sifat sempurna yang tidak memiliki kekurangan sedikitpun dalam segala aspeknya.. seperti sifat Al Hayah (hidup). Al Ilmu (berilmu), Al Qudrah (berkuasa), As Sam’u (mendengar), Al Bashar (melihat), dan lain-lainnya.
2.2    Sifat-Sifat Allah Menurut Pengelompokkannya
Adapun sifat-sifat Allah swt dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
2.2.1        Sifat Nafsiyah
Sifat Nafsiyyah adalah sifat yang menetetapkan adanya Allah dan menunjukkan kepada ZatNya Allah  tanpa ada sesuatu tambahan pada Zat. Maksud sifat yang tetap adalah adanya sifat tersebut pada Zat Allah yang menunjukkan Allah itu ada, bukan seperti sifat salbiyah, sebab sifat salbiyyah tidak tetap pada Zat, tetapi hanya menolak sifat-sifat yang tidak patut dan layak kepada ZatNya Allah swt. Dan maksud tanpa ada sesuatu tambahan pada Zat adalah sifat Nafsiyyah ini bukanlah tambahan pada Zat, Sifat Nafsiyyah tidak seperti sifat Ma`ani yang mana sifat Ma`ani tambahan dari Zat-Nya.
Adapun sifat Nafsiyyah adalah sifat WujudNya Allah s.w.t, dengan maksud bahwa wujudnya Allah itu adalah tetap pada ZatNya Allah dan bukan tambahan dari Zat Allah.
Maka wajib Allah bersifat Wujud, mustahil bersifat Allah tidak ada.
Allah berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَمَاوَاتِ وَٱلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِي ٱلْلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلأَمْرُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَالَمِينَ

Artinya : ”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristawa di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.( Q.S. Al-A’râf: 54).

2.2.2        Sifat Salbiyah
Sifat Salabiyyah adalah sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan patut bagi Allah s.w.t, sebab Allah Maha sempurna dan tidak memiliki kekurangan. Sifat Salbiyyah ada lima sifat, yaitu :
a.    Qidam(Terdahulu)
      Sifat Qidam Allah berarti terdahulu. Dialah Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta berserta isinya. Sebagai pencipta tentunya Allah telah ada lebih dahulu dari apapun yang diciptakannya. Tidak ada pendahulu atau permulaan bagi Allah atau menolak adanya permulaan bagi Allah swt, dengan kata lain adanya Allah swt tidak didahului oleh tidak ada, mustahil bagi Allah bermula dengan tidak ada. Allah Berfirman:

هُوَ ٱلأَوَّلُ وَٱلآخِرُ وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “ Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Al Hadiid:3)
b.    Baqa`(Kekal)
      Sifat Baqa` berarti kekal. Maksudnya Allah itu Maha Kekal. Tidak akan punah, binasa ataupun mati. Tiada akhir bagi Allah swt. Dia akan tetap ada selamanya Sifat Baqa’ menolak adanya kesudahan dan kebinasaan Wujud Allah swt. mustahil bagi Allah bersifat Fana` atau binasa. Allah berfirman :
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya : ”Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Q.S. al-Qashash: 88).
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ – وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q.S. Ar-Rahman: 26-27)
c.    Mukhalafatu Lil Hawadith (Berbeda Dengan Makhluk Ciptaan-Nya)
Allah swt sudah pasti berbeda dari makhluk ciptaanNya. Dialah dzat yang Maha Sempurna dan Maha Besar. Tidak ada sesuatu pun yang menandingi atau menyerupai keagunganNya. Mukhalafatu Lil Hawadith adalah sifat yang menolak adanya persamaan Zat, Sifat dan Perbuatan Allah dengan Zat, sifat dan perbuatan baharu, dengan makna lain Allah tidak seperti makhluknya. Allah berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang  Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. As-Syura:11)
d.   Qiyamuhu Bi Nafsih (Berdiri Sendiri)
Allah itu berdiri sendiri. Allah swt. tidak bergantung pada apapun dan tidak membutuhkan bantuan siapapun. Qiyamuhu Bi Nafsih ini menolak adanya Allah berdiri dengan yang lainnya, dengan makna lain, Allah tidak memerlukan bantuan dan pertolongan dari yang lainnya, bahkan Allah berdiri sendiri, tidak memerlukan pencipta sebab Dia Maha Pencipta, tidak memerlukan pembantu sebab Dia Maha   Kuasa, tidak memerlukan tempat sebab Dia yang menjadikanya, tidak memerlukan waktu dan masa sebab di kekuasaan-Nyalah waktu dan masa. Allah berfirman:
إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q. S al-Ankabut : 6).
e.    Wahdaniyyah(Esa/Tunggal)
          Allah itu maha Esa atau Tunggal. Maksudnya Tidak ada sekutu bagiNya. Dialah satu-satunya Tuhan pencipta alam semesta. Bukti keesakan Allah terletak dalam kalimat syahadat “Laa ilaha Illallah” yang artinya “Tiada Tuhan selain Allah”. Allah Maha Esa, Esa pada Zat, Esa pada sifat dan Esa pada perbuatan, sifat ini menolak adanya Kam yang lima :
· Zat Allah tidak tersusun dari beberapa unsur ataupun anggota badan.
· Tidak ada satupun Zat yang sama seperti Zat-Nya Allah.
· Sifat Allah tidak terdiri dari dua sifat yang sama, seperti adanya dua Qudrah.
· Tidak ada satupun  sifat di dunia ini yang sama seperti sifat Allah.
· Tidak ada satupun di dunia ini yang sama seperti perbuatan Allah.
Dengan kata lain Allah tidak memiliki Zat Esa, tidak ada seorang makhluk pun yang sama Zatnya dengan Allah, Allah memiliki Sifat yang Esa, tidak ada seorang pun yang bersifat dengan sifat Allah, Allah memiliki perbuatan yang Esa, tidak ada di dunia ini yang sama perbuatannya dengan Allah. Allah berfirman :
لَوْ كَانَ فِيهِمَا ءَالِهَةٌ إِلاَّ اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Artinya : “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Q.S al-Anbiya’: 22).
2.2.3        Sifat Ma’ani
Sifat Ma`ani adalah sifat yang keberadaannya berdiri pada Zat Allah s.w.t yang wajib baginya hukum. Sifat ini terdiri dari tujuh sifat, yaitu:
a.       Qudrah (Berkuasa)
Qudrat berarti Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah swt. Qudrah adalah sifat yang azali yang berada pasti pada Zat-Nya Allah s.w.t yang Kuasa menjadikan dan menghancurkan setiap yang mungkin sesuai dengan Iradah-Nya. Allah berfirman :
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِن شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيماً قَدِيراً

Artinya: “Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (Q.S. Al-Fatir:44)
…إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
 Artinya: “…Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala  sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah: 20)
b.      Iradah (Berkehendak)
Iradat adalah sifat Allah swt. yang berarti berkehendak. Maksudnya Allah itu maka menentukan segala sesuatu. Apabila Allah berkehendak maka jadilah hal itu dan tidak seorang pun mampu mencegahNya. Iradah adalah sifat azali yang berada pada Zat-Nya Allah s.w.t menentukan sesuatu yang mungkin dengan sebahagian  yang boleh terhadapnya, seperti Allah menentukan bahwa Zaid pintar dan Ziyad bodoh. Allah berfirman:
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَآ أَرَدْنَاهُ أَن نَّقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun(jadilah)” maka jadilah ia.” (Q.S. An-Nahl:40)
c.       ‘Ilmun (Mengetahui)
‘ilmun artinya mengetahui, adalah sifat Qadim yang berada pada Zat-Nya Allah s.w.t Mengetahui seluruh sesuatu  yang bersangkut paut dengan sekalian yang wajib, mustahil, dan yang boleh tanpa didahului oleh sesuatu yang menutupi pengetahun-Nya. Allah berfirman:
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

 Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.S. Qaf: 16)
d.      Hayat (Hidup)
    Allah swt. Maha Hidup. Tidak akan pernah mati, binasa ataupun musnah. Dia kekal selama-lamanya. Hayat adalah sifat yang Qadim berdiri pada Zat Allah s.w.t yang Maha Hidup, dengan adanya sifat Hayat menetapkan dan mengkuatkan adanya sifat Qudrat, Iradat, Ilmu, Sama`, Bashar dan Kalam, hidupnya Allah yang kekal dan abadi. Allah berfirman :
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا
Artinya: “Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (Q.S. Al-Furqon: 58)
e.       Sama’ (Mendengar)
Allah Maha Mendengar. Baik yang diucapkan ataupun yang disembunyikan dalam hati, Allah mengetahui. Sama` adalah sifat yang qadim berdiri pada Zat-Nya Allah swt. yang Maha Mendengar dari seluruh yang ada baik suara ataupun selainnya. Allah berfirman :
قَالَ لاَ تَخَافَآ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَى
Artinya: “janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku Maha Mendengar dan Maha Melihat”. (Q.S. Thaha:46)
f.       Bashor (Melihat)
Bashor ( Maha Melihat ) adalah sifat yang qadim yang berdiri pada zat Allah s.w.t Maha Melihat segala sesuatu yang ada, baik yang jelas, yang tersembunyi, maupun yang samar-samar.
Allah berfirman :
 كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. as-Syura: 11).
g.    Kalam (Berfirman)
Kalam ( Maha Berbicara ) adalah sifat yang qadim yang berdiri pada Zat-Nya Allah yang Maha berbicara tanpa menggunakan huruf dan suara, tanpa i`rab dan dan bina` dan Maha suci dari sifat-sifat kalam yang baharu. Allah berfirman :
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيماً
Artinya : ”…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (An-Nisâ: 164).

2.2.4        Sifat Ma’nawiyah
Sifat Ma`nawiyah adalah sifat-sifat yang melazimi dari sifat Ma`ani, dengan kata lain sifat Ma`nawiyah adalah sifat yang wujud disebabkan adanya sifat Ma`ani, seperti Allah memiliki sifat kuasa, maka lazimlah Allah itu keadaannya Kuasa. Sifat Ma`nawiyah terdiri dari tujuh sifat :
a.       Kaunuhu Qaadiran (Berkuasa)
Qadiran berarti berkuasa. Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran yang artinya:
يَكَادُ ٱلْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَٰرَهُمْ ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوْا۟ فِيهِ وَإِذَآ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا۟ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَٰرِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِي رٌ
 Artinya: “Hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali sinaran itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah: 20)
b.      Kaunuhu Muridan (Berkehendak)
Allah Maha Berkendak atas segala sesuatu. Bila Allah sudah menakdirkan suatu perkara maka tidak ada yang bisa menolak kehendakNya. Dalam Al-Quran dijelaskan yang artinya:
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
Artinya: “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS.Hud: 107)
c.       Kaunuhu `Aliman (Mengetahui)
Allah Maha mengetahui segala sesuatu, baik yang ditampakkan ataupun disembunyikan. Tidak ada yang bisa menandangi pengetahuan Allah yang Maha Esa.
d.      Kaunuhu Hayyan (Hidup)
Hayyan berarti hidup. Allah Maha hidup. Tidak mungkin bagi Allah Ta’ala untuk binasa. Dia selalu mengawasi hamba-hambaNya, tidak pernah lengah ataupun tidur.
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا
Artinya: “Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup, yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqon: 58)
e.       kaunuhu Sami`an (Mendengar)
Sami’an juga berarti mendengar. Allah itu Maha pendengar. Tidak ada yang terlewatkan bagi Allah dan tidak ada pula yang melampui pendengaranNya.
f.       Kaunuhu Bashiran (Melihat)
Bashiran juga beratii melihat. Penglihatan Allah meliputi segala hal, baik yang terlihat ataupun yang disembunyikan.
g.      Kaunuhu Mutakalliman (Berfirman atau Berkata-kata)
Sama halnya dengan kalam, mutakalliman juga berarti Allah itu berfirman. Firman Allah terwujud dalam kitab-kitab suci yang diturunkanNya lewat para nabi. Firman Allah begitu sempurna dan tidak ada yang menandingi.
2.3      Cara Membentuk Karakter Siswa Dengan Metode Mengimani Sifat Sifat Allah
Membentuk karakter siswa dengan metode mengimani sifat-sifat Allah dengan cara:
a.       Menanamkan kepada siswa untuk mengimani sifat Allah sedari kecil.
b.      Menanamkan kepada siswa bahwa meyakini dan memahami dapat membuat hidup lebih tentram
c.       Menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa Allah dapat melihat dan mendengar semua perbuatan atau tingkah laku, maupun perkataan seluruh umat manusia sehingga siswa dapat menyimpulkan bahwa apapun yang kita lakukan akan mendapat balasan didunia ataupun diakhirat nanti.
d.      Menanamkan kepada siswa bahwa Allah itu Esa atau Tunggal, Dia tidak beranak dan tidak diberanakkan. Jadi, saat ini sering ada pengakuat bahwa ada sekelompok orang yang mengaku sebagai Tuhan itu tidak benar.
e.       Menanamkan kepada siswa bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Jadi saat  kita mendapat musibah itu berserah diri kepada Allah ataupun meminta bantuan hanya kepada Allah karena yang berkuasa di Alam semesta ini adalah Allah, maka jika meminta bantuan kepada selain Allah itu tidak benar dan perbuatan itu disebut  musyrik





BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan memperbuat dengan anggota badan (beramal). Sifat (sifah) adalah nama yang menunjukkan pada sebagian keadaan dari dzat , dan sifat tersebut merupakan sesuatu yang terjadi dengan mengambil sesuatu dari dzat tersebut, seperti ilmu kekuasaan dan sebagainya. Jadi mengimanis sifat-sifat Allah adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan memperbuat dengan anggota badan untuk menunjukkan pada sebagian keadaan dari dzat.
Sifat-sifat Allah terbagi menjadi empat yaitu Sifat Nafsiyah, Sifat Salbiyah, Sifat Ma’ani, dan sifat Ma’nawiyah. Jumlah keseluruhan sifat-sifat Allah ada 20. Sebagai muslim kita wajib mengimani atau mempercayai sifat-sifat tersebut.  Ada berbagai cara untuk membentuk karakter siswa dengan cara mengimani sifat-sifat Allah swt salah satunya adalah dengan cara menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa Allah dapat melihat dan mendengar semua perbuatan atau tingkah laku, maupun perkataan seluruh umat manusia sehingga siswa dapat menyimpulkan bahwa apapun yang kita lakukan akan mendapat balasan didunia ataupun diakhirat nanti.

3.2  Saran
            Dengan makalah ini diharapkan pembaca maupun anak-anak Islam atau umat Islam khususnya kita generasi penerus bangsa agar dapat mengetahui tentang akhlak seluk beluk malaikat Allah baik mengenai pengertian, pengelopokkan sifat-sifat, serta lebih meningkatkan kadar deimanan kita kepada Sang Pencipta seluruh alam. Marilah kita bersama-sama menjaga keimanan kita untuk kelanjutan hidup agar dapat selamat dunia dan diakhirat.



DAFTAR PUSTAKA

Al- jibrin, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz, 2006, Cara Mudah Memahami Aqidah, Jakarta: Pustaka At-Tazkia.
As-Segaf, Alawi bin Abdul Qadir, 2001, Mengungkapkan Kesempurnaan Sifat-sifat Allah dalam Alquran dan As-sunnah, Jakarta:Pustaka Azzam.
Drs. H. Masan AF, 2009, Aqidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah kelas V11, Semarang: Karya Toha Putra.